Islam Nusantara

Ketika pertama kali NU mengeluarkan konsep Islam Nusantara sebagai antitesis dari Islam ala Saudi, jujur, aku terpesona.

Inilah perang tanpa pedang, penyadaran tanpa kekuatan, pencerahan tanpa arogansi. Panji-panjinya dibawa oleh ulama-ulama kawakan. Tutur lembut tapi mencerdaskan. Seminar-seminar digalakkan.

Emha membawakannya dengan gaya kampungan, bukan dengan gaya padang pasir. Gus Mus membawakannya dengan gaya tutur. Bukan dengan gaya menghardik. Quraish Shihab mnggiringnya dengan gaya Filsuf, bukan dengan menuding. Mereka menyeret kembali gaya bercerita dengan model walisanga. Dimana islam diterima dengan cinta dan terhormat. Amanah bukan amarah. Menyejukkan bukan menakutkan.

Model inilah yang tidak didapatkan oleh mereka yang di timur tengah, dimana masalah terpaksa diselesaikan dengan senjata. Wajar ketika Negara di dunia dengan mayoritas penduduk muslim melirik negeri kita. Mereka iri dengan kecerdasan ulama-ulama kita yang bijaksana. Negara mereka sedang mengalami neraka, dan mereka melihat Negara kita sebagai surga.

visi-nasionalisme-Islam-Nusantara-pustakacompass

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: